FOTOGRAFI ANALOG DAN FOTOGRAFI JAMAN NOW.
MENYIKAPI
PERKEMBANGAN ZAMAN.
KILAS BALIK.
BERKACA PADA
PENGALAMAN.
Selamat pagi, selamat siang,
selamat sore dan selamat malam kapan pun dan dimanapun anda membaca tulisan
ini. Izinkan saya untuk berbagi pengalaman tentang fotografi dengan bekal
belajar baru kemarin sore.
Delapan tahun lalu. Tepatnya
tahun 2009. Kala itu, saya masih duduk dibangku sekolah dasar. Pertama kali berambisi untuk mengabadikan
momen dengan kamera. Kamera yang saya gunakan kala itu adalah kamera pinjaman
paksa milik saudara. Kamera dengan brand yang cukup terkenal pada jamannya dan
masih menggunakan roll film yang terbatas. Tanpa basic memotret, saya ‘sok
tahu’ dan berlagak ala fotografer profesional. Jepret sana-sini dengan hasil
yang bahkan diluar expektasi; hasil cetakan ‘fotonya terbakar’ karena saya
membuka tempat roll film tanpa sempat menggulung filmnya.
Tahun 2011,
saat masih duduk dibangku Smp, saya mengenal kamera dslr. Walaupun kala itu pun
masih kamera pinjaman milik seorang sahabat dan memotret dengan modal bakat ‘sok
tahu’. Tapi, semenjak itu saya mulai merasa bahwa fotografi adalah hal yang
ingin saya pelajari kelak.
Barulah,
tahun 2015 saya memiliki kamera dslr peribadi. Dan mulailah semenjak itu saya berusaha belajar
secara mandiri, sharing dengan kawan-kawan komunitas, kawan-kawan kampus dan
lain sebagainya. Sampai saat tulisan ini diketik, saya masih konsisten dan
antusias untuk terus belajar menekuni dunia fotografi.
Namun,
belakangan saya sadari dan bersyukur bahwa saya pernah mengalami sensasi
memotret menggunakan kamera legend itu (kamera analog). Bukan tanpa sebab,
perbedaan begitu kontras ketika saya mulai menggunakan kamera digital jaman
ini. Dengan fitur yang serba otomatis, kita bisa mengatur dan mengambil gambar
sesuai dengan keinginan kita sendiri.
Disisi
lain, saya begitu kagum dengan orang-orang yang pernah menggunakan kamera
analog pada jamannya. Betapa hebatnya skill mereka. Kita ambil contoh dari
fitur kamera yang masih menggunakan roll film dan tanpa mode preview. Dengan
isi film yang terbatas dan tanpa bisa melihat kembali (me-review) gambar yang
telah diambil, tentunya tidak bisa sembarangan mengambil gambar. Beberapa aspek
perlu dipikirkan dengan matang sebelum shutter ditekan. Mulai dari komposisi
dan tetek-bengek lainnya perlu dipertimbangkan dengan baik. Walhasil, mereka
menciptakan karya yang tidak asal-asalan.
Tanpa
meragukan skill fotografer dengan kamera digital. Sejatinya, jam terbang dan
pengalaman yang dapat membuktikan. Saat ini kita hanya perlu mensyukuri dan
beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang semakin memudahkan khususnya
dalam hal fotografi. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang betapa mudahnya kita
mengakses kamera. Kita ambil contoh kamera ponsel. Seiring berkembangnya
teknologi pula, kamera ponsel juga tidak bisa kita remehkan kualitasnya. Bahkan
kabarnya, kualitas kamera ponsel kini menyaingi kamera dslr dengan fitur 4k dan
lain sebagainya. Banyak pula yang menyukai memotret dengan kamera ponsel. Itu
dibuktikan dengan banyaknya komunitas fotografi dengan genre yang mereka sebut
‘Phonegrafi’ dengan memanfaatkan kamera smartphone sebagai media untuk
memotret.
Terlepas
dari hal itu semua, dengan menggunakan kamera apapun anda memotret, yang
terpenting adalah bagaimana anda memanfaatkannya dengan baik, terus belajar dan
pahami kamera anda. Skill atau gear? Yang jelas keduanya sama penting. Tapi
akan terasa percuma jika kita mempunyai kamera dengan harga selangit tanpa
diimbangi skill yang mumpuni. Menurut saya, “berproses” adalah hal yang sangat
penting dalam dunia fotografi.
Bagi
saya pribadi, fotografi sebagai hobi ‘menyenangkan’, sebagai bisnis
‘menjanjikan’. Fotografi itu unik. Fotografi itu kreativitas dan inovasi.
Fotografi adalah nadi. “the world without fotografi is nothing.
Terakhir,
sekedar saran untuk anda yang ingin belajar dan terjun dalam dunia fotografi,
pertama pertimbangkan kembali niat anda. Mengapa? Tanpa bisa kita pungkiri
bahwa fotografi memerlukan biaya yang tidak sedikit juga tidak murah. Jadi matangkan
dulu niat anda sebelum akhirnya anda memutuskan untuk membeli kamera dan
perlengkapannya agar tidak terasa percuma dan menyesal pada akhirnya. Kedua,
teruslah belajar dan jangan lelah berproses. Karena, “dunia fotografi itu keras
jendral”. Jangan mau instan saja. Ketiga, jangan mudah berpuas diri dan tetap
hargailah karya orang lain. Karena pada hakikatnya, fotografi adalah seni.
Berarti, pelakunya adalah seorang seniman. Seorang seniman berbicara lewat
karyanya bukan dengan gengsinya.
Terimakasih.
Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Karena pada hakikatnya, apa yang
saya utarakan tidak lebih dan kurang sebuah proses pembelajaran yang tentunya
rentan akan kesalahan. Berbagi itu menyenangkan. Tetap semangat dan terus berkarya. Keep RESPEC . . .!!!
Komentar
Posting Komentar